Archive for the ‘rumah’ tag
Rumah
Apa yang ada dipikiranmu ketika mendengar kata-kata “rumah,” ?.
Rumah nenek, mengingatkan saya akan kehangatan akan masa tua seorang manusia yang ramah dan selalu memanja saya. Rumah orang tua, mengingatkan saya akan suasana warna-warni sebuah masa kekeluargaan, tentunya terlalu banyak warna yang ada dalam rumah tersebut. Rumah teman atau keluarga teman, seperti sebuah lukisan dalam suatu galery dimana disana saya sebagai penikmat galery tersebut.
Tentunya banyak definisi rumah bagi macam-macam semua orang dan semua pendapat. Ada yang menganggap rumah itu ibarat burung dengan sebuah pohon. Bisa dipakai untuk tempat singgah, tempat beranak pinak, tempat mencari makan, atau mungkin tempat istirahat ketika masa tua telah tiba sambil menunggu ajal.
Bagi pejalan, mungkin rumah juga bisa diartikan petualangan. Seperti yang pernah dikatan Vahd Mulachel dalam bukunya yang berjudul “vahdventure”; hidup tanpa petualangan seperti sebuah buku tanpa nomor halaman, kita melalui itu, kita membaca tiap hari, tapi kita tidak tau sampai dimanakah kita?.
Ya, perjalanan saya sendiri mungkin tidak sejauh dan belum se-extrem yang dilakukan oleh seorang Golagong, atau wartawan kompas yang sekarang berada entah di belahan bumi mana sekarang, ya si Agustinus Wibowo. Belum! Saya belum sampai sana. Saya masih berkutat dalam satu pulau dan belum meninggalkan pulau itu, walaupun didalam kamar saya terbentang peta nusantara, dan peta-peta daerah seperti jakarta, bandung, dan sekitarnya yang masih terlipat rapi dalam bentuknya.
“Rumah” yang saya tempati sekarang ini kecil. Hanya ada satu manusia ; saya, yang berada didalamnya ketika kantuk, malas, dan bosan mulai kumpul akur dalam satu hari. Dan terkadang saya seperti tinggal dalam Asteroid B 612 –planet tempat pangeran kecil tinggal dalam buku berjudul pangeran kecil karangan Antoine de Saint-Exupery– tapi yang membedakan antara saya dan pangeran kecil ; saya sering membiarkan baobab tumbuh seenaknya dan baru sadar serta berkeinginan untuk memotong dan membersihkan ketika baoba itu mulai besar dan mulai terasa sesak. Ya, sebut saya malas dan itulah saya.
Lalu bagi orang-orang yang mursal apakah masih ada sesuatu yang bernama rumah ?
Bagi saya masih. Tak perduli meski konon ketika sebuah rumah rusak yang menempatinya rusak, toh masih ada dan masih punya sebuah rumah. Dan untuk memperbaiki sesuatu yang rusak masih ada sebuah waktu dan kesempatan. Walaupun takdir manusia yang bandel adalah suka bermain-main dengan waktu.
“Siapa mau mencari mutiara, haruslah berani selam kedalam laut yang sedalam-dalamnya; siapa yang demgan kecil hati berdiri di pinggir saja dan takut akan terjun kedalam air, ia tak akan dapat sesuatu apa!,” begitu salah satu kata-kata yang saya ingat dalam sebuah tulisan Soekarno yang dipasang dalam Suluh Indonesia muda pada tahun 1928.
Cukup gantungkan rindu akan rumah itu dalam 5 jengkal jari diatas kepala, jangan terlalu jauh dan jangan terlalu dekat. Lalu ketika rindu itu sudah mengepung ke berbagai sisi, pulanglah. Dan ingat, terlalu lama dalam rumah bisa bikin sesak karna kenyamananya. Keluarlah sesekali, dan pulanglah sesekali juga.
“… Homesick.
Because I no longer know where home is…” (King of convenience, home sick)
The article has
2 responses