Ngasal, ndableg, wagu, ra mutu!

Nulis asal sempat dan asal ingat

Archive for the ‘mudik rantau pulang’ tag

Rantau  

Merantau itu pergi jauh. Kadang-kadang jauh, jauh sekali. Kadang-kadang rasanya sewaktu-waktu akan dapat kembali. Rasanya. Padahal jalan yang telah dilalui dan akan ditempuh begitu banyak menikung. Kita akan terus merantau. Bagaimanapun, jalan akan terus menikung.. 

(Jalan menikung, para priyayi 2 –umar khayam)

Akhirnya lebaran selesai sudah. Kantor-kantor, pabrik-pabrik yang tadinya meliburkan karyawan dan pegawainya kini telah beraktivitas seperti biasa. Menggerakan motor, sekrup, dan berbagai sendi-sendi industri lagi. Sebagaimana kepergian meninggalkan kota rantau (mudik) kembali ke kota rantau akan sama ramainya juga, dan juga sudah menjadi suatu bentuk budaya yang harus diputar dan diputar kembali tiap tahunnya.

Jaman berubah, waktu berganti, tapi tidak dengan manusia dengan kebiasaannya. Begitu pula “budaya” mudik dan merantau. Orang akan rela menebus berbulan-bulan gaji atau bahkan menambung lemburan demi lemburan di pabrik, hanya untuk satu kali event dalam setahun : lebaran. Atau setidaknya kembali ke kampung, menemui dan mencumbui kembali tanah tempat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan.

Dan bukan suatu keheranan apabila dalam event yang bernama lebaran, berbagai jenis hal yang berkaitan atau berhubungan dengan ini akan mendadak menjadi lebih (atau sengaja dilebih-lebihkan ?) untuk sekedar menyemarakkan dan meramaikan gaungnya.

Sejatinya kembali ke fitrah, kembali ke keadaan NOL kembali ke awal permulaan, adalah kebutuhan yang sangat amat dibutuhkan manusia ketika dia sudah menempuh lika liku jalan yang sudah ia jalani dan ia temui. Diamini secara terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi, manusia adalah makhluk yang merindukan titik awal. Sekedar bahan untuk refleksi diri supaya tetap exist di masa yang sekarang, ataupun hanya sekedar wacana ringan pengingat zaman di hari esok.
Istirahat. Berhenti dari rutinitas kota, pekerjaan, pabrik, atau yang dilakukan sehari-hari di kota rantau, itulah yang kita kerjakan dan kita nikmati betul di kota  asal kita ini. Meskipun istirahat itu adalah ya tidak melakukan apa-apa sebenarnya, tapi ketika kita pulang, makna istirahat sebenarnya adalah bekerja.

Bekerja untuk menemui kembali sanak, puak, kerabat, teman untuk bercanda tawa, memutar kembali euphoria masa lalu dan menikmati nya perlahan-lahan, dan disana kita merasa waktu melambat, bergerak sangat pelan sekali hingga satu hari pun terasa lama untuk kita alami.

Pulang ; menemui rumah adalah satu nya. Seperti petikan dalam salah buku pram –Bukan Pasar Malam–, “Apabila  rumah itu rusak, maka yang menempatinya pun rusak”  dan ketika kita pulang kita akan dipaksa untuk melihat rumah. Melihat tembok, melihat perubahan sana-sini, mengingat kembali memorabilia yang sudah terjadi bertahun-tahun lalu, dan terkadang memperbaiki sisi-sisi yang perlu di tambal sulam ; genteng, cat, dll.
Lalu ketika datang satu saat bernama kembali ke kota rantau seakan-akan hal yang telah kita lalui selama liburan seperti sangat cepat berlalu. Sekelabatan datang, dan sekelebatan hilang. Seperti sebuah pasar malam yang tau-tau ramai dan tau-tau menjadi sepi karena para pengunjung meninggalkannya sedikit demi sedikit, namun terasa cepat bagi para pemain atau pun penghuni psar malam tersebut.

Dan sayangnya semua orang itu tidak memiliki sifat seperti  si mbok sri sumarah dalam kumpulan cerita seribu kunang-kunang di manhattannya Umar Khayam. Sifat sumarah dalam jawa yang berarti menyerah, pasrah, kalah. Sumarah terhadap keadaan hidup di desa, sumarah terhadap apa yang sudah didapat dalam desa.

Justru yang ada semua memandang kota sebagai pusat mesin keruk pencari uang dan mimpi.

Dan berapa mimpi yang sudah terjual di kota ini sendiri ? entah. Jika mimpi adalah bintang, maka mimpi-mimpi yang terjual akan membuat bintang-bintang hilang satu demi satu. Dan seperti itulah langit Jakarta, atau mungkin langit sebuah desa yang akan atau mengejar seperti Jakarta. Kota tanpa bintang, kota yang telah menggadai mimpi-mimpi .

The article has

5 responses

Written by yudhi

October 21st, 2008 at 11:46 pm

Posted in senandika, thought

Tagged with