Kiriman kemarin
Ada 4 paket yang sampai pada markas kami, para bromocorah, kemarin itu. 2 Paket terbungkus manis dalam kalender putih, 2 lagi terbungkus dengan wadah berwarna coklat. Pengirim siapa tidak tercantum dengan jelas disana –mohon koreksi saya apabila nanti disuatu hari ada yang ingin dicantumkan namanya dalam detail dokumentasi 1000 buku ini– yang saya tau hanya ada selembar kertas bertuliskan dari warga dagdigdug, dan dalam 1 wadah yang berwarna coklat tertulis : DR By Von. Entah apakah si pengirim bernama Von atau siapa, tidak begitu jelas buat saya.
Isi dari paket-paket tersebut semuanya bagus-bagus. Ada novel, kamus, buku pintar, buku cerita, komik-komik serial cantik, macam-macam lah. Banyak. Dalam paket yang berbungkuskan kertas tanggalan putih itu total ada 43 buah. Terpisah menjadi dua bungkus, bungkus pertama berjumlah 30 buku, bungkus yang satunya lagi berjumlah 13.
Diantara buku-buku dalam paket itu ada satu buku lama, yang khas, dan menarik. Di buku itu tertulis bahwa telah memenangkan “Penghargaan Tulis Asia Tenggara pada tahun 1983”. Sebuah roman sejarah yang diterbitkan dan ini adalah cetakan kelima, bulan oktober tahun 1988. Dua tahun setelah saya lahir :D.
Pengarangnya Y.B Mangunwijaya, “Burung-burung manyar,” judulnya. Mengenai bercerita tentang apa novel ini, tanyalah kepada zen, si pejalan jauh. Dia lebih paham, dan lebih fasih bercerita tentang novel ini.
Masih dalam paket itu juga, ada lagi yang menarik. Bercerita tentang Bung Hatta. Tulisan dari buku ini adalah kumpulan artikel khusus harian kompas untuk memperingati 100 tahun kelahiran Bung Hatta. Pengantar tulisan oleh Jakob Oetama, yang diterbitkan oleh kompas. Buku-buku lainnya dalam paket tersebut adalah novel cerita anak-anak dalam bahasa inggris.
Di bungkus paket putih yang kedua, kebanyakan novel-novel terjemahan dan novel-novel indonesia klasik. Ada Mira W “Tatkala mimpi berakhir,” ada Barbara Taylor Bradford, ada Pearl S.Buck dengan “Maharani,” nya, lalu ada Jackie Collins, fiuh.. novel-novel drama.
Lalu di bungkus warna coklat yang satu berjumlah 7 buku, dan yang satunya lagi ada 16. Total 23 buku. Dalam paket-paket bersampul coklat yang pertama, salah satunya ada “Orang-orang proyek,” nya Ahmad Tohari. Cerita tentang si kabul, insinyur, mantan aktivis kampus, yang sedang bergelut dengan “permainan” yang sedang terjadi didalam proyek yang ia kerjakan.
Paket yang terakhir isinya macam-macam. Gado-gado. Ada yang tentang otomotif “Pengetahuan Teknik Sepeda motor,” ada yang tentang serial modifikasi mobil “Serial modifikasi tentang kijang,” ada yang tentang programing php, ada tentang motifasi “kisah-kisah bisnis terbesar forbes sepanjang masa,” wah, campur. Seru.
Akeh yo ? Hahahahah ndasmu su! Wes ra sah kakehan cangkem, kene ewangi ngitung buku karo ngumpulke buku!.
Translated:
Banyak ya ? Hahahaha pala loe! Udah ga usah banyak ngomong, sini bantuin ngitung buku sama ngumpulin buku!.
El yudhi, berbagi ruang dan tidur bersama kumpulan buku-buku.
Terima kasih warga
“Yud, ada titipan buku tuh. Nanti diambil ya, di rumah,” begitu tadi pagi ibu kost bilang kepada saya, waktu saya bangun tidur dan masih mengumpulkan nyawa setengah-setengah. O lala, kiriman buku lagi. Langsung nyawa yang setengah-setengah tadi mak benduduk ngumpul jadi satu seketika.
“Berat lho yud, ini ada 4 paket,” ibu kost memperingatkan saya. “Tenang bu, gampang,” kata saya menjawab enteng. Ternyata benar paket-paket itu kecil tapi padat. Lumayan untuk olahraga di pagi hari sebelum mburuh ke pabrik.
Sebelum paket-paket itu saya angkat, ada yang menarik perhatian saya. Satu bungkus paket yang namanya sudah tak asing lagi. Khas, dan unik. Disitu tertulis “Dari warga dagdigdug,”. Hm.. dan saya sudah tau ini dari mana, meskipun disana ada embel-embel lain nama pabrik dibelakangnya, hihihi.
Yang lucu itu ibu kost saya. Tadi dia nanya gini “Yud, kampung dagdigdug itu memang ada?, lha kok ini dipaketnya ditulis dari warga dagdigdug,”. Dan saya bingung mau memberi penjelasan yang seperti apa, hahaha. Ya maklum, ibu kost saya ini bisa dibilang betawi totok, jadi ya masalah internet, blog, dan berbagai remeh temeh nya kurang begitu tau.
Dan saya pun cuman bisa menjawab “Ya bu, ada,” sambil langsung mengambil paket dan memindahkan ke kamar dan pastinya, cengar cengir sendiri.
Ya, terimakasih buat warga atas sumbangan bukunya hari ini. Paket sudah diterima dengan baik di mabes para bromocorah :D. Dan terimakasih juga untuk pak camat, pak lurah, pak carik, dan para jogobayan sekalian, yang sudah turut serta untuk mempromosikan kegiatan ini.
Yuk! nyumbang buku!
1000 buku untuk semua

Ada yang baru di Tahun ini. Setelah sukses dengan program “wedhus for bangsari“, bersama teman-teman kami kembali membuat kegiatan yang dinamakan “gerakan kumpul 1000 buku“. Kenapa buku ? ya karena yang sempat dan yang terpikir buku. Jawaban simple, ndagel, tur ndableg. Khas.
Lalu buku-buku ini ditampung dan dialamatkan kemana ? bisa dibaca dalam F.A.Q yang kurang lebih isinya seperti berikut :
Dimana saya bisa menyerahkan buku tersebut?
Kalau punya waktu luang, bawalah ke Bunderan HI tiap Jumat malam sekitar pukul 22.00 WIB. Di sana ada teman-teman BHI yang akan menampungnya. Anda juga bisa mengirimkannya, baik dengan mengantarkan sendiri maupun menggunakan jasa kurir, ke:Muhammad Saifullah, d/a Jl Kebon Kacang II no 70 Tanah Abang Jakarta 10240
Buku yang bisa di sumbang adalah buku-buku yang belum/sudah/tidak sempat anda baca. Jenis buku bisa apa saja, terserah dan seikhlas anda menyumbang. Jika buku bacaan tidak ada, bisa juga buku tulis, atau sumbangan donasi dalam bentuk yang lain : seperti uang, etc, bisa juga disumbangkan melalui rekening kami.
Total buku (tidak melalui perhitungan yang mendetail) untuk sekarang ini adalah mencapai 150-200. Untuk jumlah detailnya berapa, nanti kami akan menghitung kembali dan sesegara mungkin akan di publisikan ke ranah publik (dalam hal ini blog).

Selamat hari minggu, mari kita menyumbang buku!
*el yudhi, mulai berbagi ruang kamar dengan kumpulan buku-buku yang semakin menumpuk! yihaa…
Bangsat
Nama latinnya adalah Cimex lectularius. Istilah indonesianya adalah kutu busuk, kepinding, betawi bilang : bangsat. Hewannya kecil, mungil, biasanya senang hidup di sekitar kasur, seprei, bantal, atau lipatan-lipatan yang dianggap “nyaman” versi dia. Kalau menurut saya, dilihat dari bentuk fisik hewan ini tidak menyeramkan. Bahkan cenderung aneh, dan wagu. Tentang “kerusakan” yang ditimbulkan oleh hewan ini pun tidak terlalu “berbahaya” sekali. Hewan ini hanya mengakibatkan tubuh gatal-gatal, dan meninggalkan sedikit souvenir yaitu kulit yang menjadi bengkak kemerah-merah’an.
Untuk memberantas hewan kecil yang ngeselin ini, terlalu susah apabila kita membunuhnya satu demi satu. Cara tradisional dan terampuh adalah menjemur kasur, bantal, seprei di bawah terik matahari (asumsi di kasur, bantal itu adalah tempat yang ada si-bangsat nya ini). Alternativ yang lain adalah dengan insteksida.
Tempat si bangsat ini ternyata tidak hanya di negara kita, Indonesia. Di luar negri seperti di kereta listrik New York, paris, dan inggris pun dia juga ada. Kok bisa ? ya karena di tempat itu lembab, dan kutu ini suka sekali dengan daerah yang lembab. Jika tempat itu lembab, maka dia akan tinggal disana, dan berkembang biak juga disana.
Dan didalam masyarakat, sosial, bangsat juga menurunkan sifatnya ke segelintir manusia. Tidak pandang bulu dimana, dan siapa manusia itu, sifat bangsat itu akan menempel ke si korban. Orang yang sudah “terjangkiti” bangsat ini ya memang sama menyebalkannya dengan bangsat itu sendiri.
Kerugian yang diciptakan oleh orang ini, ya memang tidak terlalu brutal, dan tidak meledak-meledak, tapi risih. Rutin, dan selalu mengulang-ngulang sifatnya yang ngeselin itu. Untuk si korban manusia bangsat ini : bagi yang kurang sabar biasanya akan langsung menghabisi dengan berbagai cara, dan bagi yang sabar biasanya cenderung membiarkan orang ini selama belum membuat kerusakan yang “terlalu” versi dia.
Kalau bangsat kutu kita bisa berantas dengan sekali jemur kasur, atau menyemprotkan insektisida di sekitar lokasi bangsat itu ada. Tapi kalau bangsat manusia, ini yang sedikit repot dan susah. Tapi ini bukan berarti tidak bisa untuk dibasmi. Perlu pendekatan-pendekatan dan usaha untuk bisa memberantas sifat “bangsat” ini.
Salah satunya adalah dengan saling pengertian antara yang satu dengan yang lain.
Karena sudah takdirnya manusia adalah makhluk yang tergesa-tergesa –meminjam kata dari galam zulkifli dalam buku nya yang berjudul taman seni — jadi ya, menurut saya sendiri, terlalu lama untuk seorang manusia bisa berfikir dan berusaha untuk saling mengerti dan memberi pengertian ke sekitarnya.
*El yudhi mulai menjemur kasur untuk memberantas bangsat, ada yang mau ikut?
Monitoring
Kalau di linux, biasanya make netstat. Enak, dan bisa digabung make bash. Misal, di grep port berapa dan ip berapa aja yang connect, lalu disana di save bla bla bla, enak. Tapi sialnya kalau di bsd “katanya” harus di compile bla bla untuk bisa memaksimalkan netstat tersebut *nyet!*.
Perfect!
Kurang apa lagi pagi ini coba ?
Password di blog ini udah direset selama 5 kali atau entah berapa kali, dengan alasan lupa.
Opera, ya browser yang katanya di idam-idamkan itu, ternyata nge hank dan rada sensian dengan wp, khususnya ketika posting. Solusinya ? klik tab di sebelahnya, yakni code, maka dijamin selamat dan bisa. *sigh*
Firefox ? oh big no. Perlu kill pid ratusan kali ketika lagi enak-enaknya bertab2 ria lalu secara mak jegagig firefoxnya jadi bego dan bengong.
IE ? wasyah… terakhir saya pakai ketika stm. Entah, mungkin sekarang rupa apa browser tersebut masih hidup atau tidak.
Fiuh.. ternyata bersahat dengan yang namanya “browser” itu sangat susah. Mungkin teman terbaik hanyalah browser bernama lynx, tapi sialnya ketika mau lihat gambar harus.. ah sudah lah, adalah suatu keajaiban dunia yang ke 9 jika seseorang bisa membuat content internet bergambar menggunakan lynx.
Nginx dan hewan bernama php
Gak terasa, udah 2 bulan absen di blog sini. Sibuk ? halah sibuk dari hongkong!. Saya bukan tipe orang-orang sibuk yang seluruh jadwal dari 24 jam nya adalah kegiatan dan kegiatan. Dari dulu, sampai sekarang penyakit yang masih belum berubah cuman satu : Males! :P.
Ok, mulai.
Nginx beda dengan apache, itu aturan nomer pertama.
Cara tergampang untuk “mengkawinkan” antara php dengan nginx, adalah dengan cara “men-spawn”, yakni dengan lighttpd. Untuk itu, kita memerlukan, dan diwajibkan mendownload terlebih dahulu lighttpd ini.
Kenapa mendownload? kenapa tidak langsung menginstall melalui paket?. Saya sudah mencobanya, menginstall melalui paket melalui ubuntu, namun rasanya kok kurang manteb yah ?, masih kurang cesspleng
masih enakan nginstall secara “jantan” untuk lighttpd ini. Seperti biasa, configure, make, make install.
Intinya sama saja, di install dimana pun (redhat base, debian base, slax base, bsd base) asal konfig nya bener, ya jalan. Secara garis besar, yang kita butuhkan adalah nginx itu sendiri, php-cgi, dan lighttpd. Udah, 3 saja.
Nginx bisa di install melalui paket, baik itu apt, yum, atau ports. Pun sama dengan php-cgi nya, tapi untuk lighttpd usahakan di install secara manual.
Sesudah semuanya berhasil di download, saatnya kita meng-konfigure satu demi satu:
Ini untuk setting nginx.conf nya. Untuk yang di debian family, biasanya untuk meng-configure nya ada di /etc/nginx/sites-enabled, lalu edit yang file default.
location ~ \.php$ {
fastcgi_pass 127.0.0.1:9000;
fastcgi_index index.php;
fastcgi_param SCRIPT_FILENAME /usr/local/www/nginx-dist$fastcgi_script_name;
include /usr/local/etc/nginx/fastcgi_params;
}
Lalu kita butuh suatu script yang berfungi sebagai parsing dari php melalui cgi, atau ya mungkin seperti itu
penjelasa secara detail saya kurang begitu paham disini. Kurang lebih seperti berikut :
#!/bin/sh
### BEGIN INIT INFO
# Provides:Â Â Â Â Â Â Â Â Â php-fastcgi
# Required-Start:Â Â Â $all
# Required-Stop:Â Â Â Â $all
# Default-Start:Â Â Â Â 2 3 4 5
# Default-Stop:Â Â Â Â Â 0 1 6
# Short-Description: Start and stop php-cgi in external FASTCGI mode
# Description:Â Â Â Â Â Â Start and stop php-cgi in external FASTCGI mode
### END INIT INFO# Author: Kurt Zankl <kz@xon.uni.cc>
# Do NOT “set -e”
PATH=/sbin:/usr/sbin:/bin:/usr/bin
DESC=”php-cgi in external FASTCGI mode”
NAME=php-fastcgi
DAEMON=/usr/bin/php-cgi
PIDFILE=/var/run/$NAME.pid
SCRIPTNAME=/etc/init.d/$NAME# Exit if the package is not installed
[ -x "$DAEMON" ] || exit 0# Read configuration variable file if it is present
[ -r /etc/default/$NAME ] && . /etc/default/$NAME# Load the VERBOSE setting and other rcS variables
#. /lib/init/vars.sh# Define LSB log_* functions.
# Depend on lsb-base (>= 3.0-6) to ensure that this file is present.
. /lib/lsb/init-functions# If the daemon is not enabled, give the user a warning and then exit,
# unless we are stopping the daemon
if [ "$START" != "yes" -a "$1" != "stop" ]; then
log_warning_msg “To enable $NAME, edit /etc/default/$NAME and set START=yes”
exit 0
fi# Process configuration
export PHP_FCGI_CHILDREN PHP_FCGI_MAX_REQUESTS
DAEMON_ARGS=”-q -b $FCGI_HOST:$FCGI_PORT”do_start()
{
# Return
#Â Â 0 if daemon has been started
#Â Â 1 if daemon was already running
#Â Â 2 if daemon could not be started
start-stop-daemon –start –quiet –pidfile $PIDFILE –exec $DAEMON –test > /dev/null \
|| return 1
start-stop-daemon –start –quiet –pidfile $PIDFILE –exec $DAEMON \
–background –make-pidfile –chuid $EXEC_AS_USER –startas $DAEMON — \
$DAEMON_ARGS \
|| return 2
}do_stop()
{
# Return
#Â Â 0 if daemon has been stopped
#Â Â 1 if daemon was already stopped
#Â Â 2 if daemon could not be stopped
#Â Â other if a failure occurred
start-stop-daemon –stop –quiet –retry=TERM/30/KILL/5 –pidfile $PIDFILE > /dev/null # –name $DAEMON
RETVAL=”$?”
[ "$RETVAL" = 2 ] && return 2
# Wait for children to finish too if this is a daemon that forks
# and if the daemon is only ever run from this initscript.
# If the above conditions are not satisfied then add some other code
# that waits for the process to drop all resources that could be
# needed by services started subsequently. A last resort is to
# sleep for some time.
start-stop-daemon –stop –quiet –oknodo –retry=0/30/KILL/5 –exec $DAEMON
[ "$?" = 2 ] && return 2
# Many daemons don’t delete their pidfiles when they exit.
rm -f $PIDFILE
return “$RETVAL”
}case “$1″ in
start)
[ "$VERBOSE" != no ] && log_daemon_msg “Starting $DESC” “$NAME”
do_start
case “$?” in
0|1) [ "$VERBOSE" != no ] && log_end_msg 0 ;;
2) [ "$VERBOSE" != no ] && log_end_msg 1 ;;
esac
;;
stop)
[ "$VERBOSE" != no ] && log_daemon_msg “Stopping $DESC” “$NAME”
do_stop
case “$?” in
0|1) [ "$VERBOSE" != no ] && log_end_msg 0 ;;
2) [ "$VERBOSE" != no ] && log_end_msg 1 ;;
esac
;;
restart|force-reload)
log_daemon_msg “Restarting $DESC” “$NAME”
do_stop
case “$?” in
0|1)
do_start
case “$?” in
0) log_end_msg 0 ;;
1) log_end_msg 1 ;; # Old process is still running
*) log_end_msg 1 ;; # Failed to start
esac
;;
*)
# Failed to stop
log_end_msg 1
;;
esac
;;
*)
echo “Usage: $SCRIPTNAME {start|stop|restart|force-reload}” >&2
exit 3
;;
esac:
Simpan dengan nama terserah anda, dan taruh didalam /etc/init.d (bila linux) atau bisa juga ditaruh dalam /etc/rc.d (bila menggunakan bsd).
Setelah itu, kita membutuhkan php-cgi yang sudah terinstall. PHP CGI bisa didapatkan dengan cara diinstall melalui port atau di configure sendiri dengan menggunakan option install cgi nya. Setelah anda install rubah path pada script diatas, pas bagian dari : “DAEMON=/usr/bin/php-cgi” dengan path php-cgi anda.
Jalankan nginx, dan jalankan juga skrip yang tadi sudah ditaruh didalam /etc/init.d tersebut.
Semoga berhasil :D, bisa syukur, ga bisa ya selamat kukur2
nb:
ternyata nulis manual kaya gini susah jg. asu tenan.
Nginx –part1
Hari ini nyobain untuk main-main dengan nginx, dan seru juga. Pertama, untuk proses start-stop-dan restart bisa dbilang lebih cepat dibandingkan dengan apache. Meskipun kata-kata “cepat” itu relatif. Hehehe. Relatif servernya, dan terkadang juga relatif “siapa yang megang servernya” :P.
Ok, langsung saja.
Pastikan server anda adalah debian based (TM) OS yang halal, dan dijamin enak. Kalau anda masih belum mau untuk berpaling ke yang pure debian, anda bisa menggunakan ubuntu :P.
Kali ini, saya menggunakan ubuntu gutsy.
Perbedaan yang mendasar konfigurasi antara nginx, dan apache jelas berbeda. Bisa dibilang (menurut saya) nginx agak paranoid :). Segalanya harus di teliti satu demi satu, boleh di allow atau tidaknya. Contoh yang simple adalah directory listing, kalau di apache, sekali anda menginstall apache pasti directory listing langsung di izinkan. Tapi kalau nginx tidak. Anda harus menambahkan, “autoindex on” didalam file konfigurasi anda, baru anda bisa directory listing.
Untuk lebih jelasnya, kurang lebih seperti berikut :
————— cut —————–Â
server {
listen  80;
autoindex on;
server_name localhost;
————— cut —————–
Pada baris server, anda bisa menambahkannya disitu.
Bagaimana dengan peletakan root directory ?
Anda bisa mensettingnya di baris :
location / {
root  /var/www/nginx-default;
index index.html index.htm;
Jangan kaget, apabila anda sudah merubah path nya, misal untuk root directory anda rubah ke : /var/www/htdocs/web, lalu ketika anda me-restart nginx, yang anda temui adalah “forbidden”. Kemungkinannya adalah anda belum meng-enable kan directory listingnya. Nah, untuk itu anda harus meng-enable kan terlebih dahulu.
Htaccess, kenapa tidak ?Â
Nginx sangat bersahabat untuk security, dan salah satu nya adalah htaccess. Untuk membuat htaccess sendiri adalah gampang, pertama anda harus meng-create htaccess itu sendiri, lalu di setingan nginx langsung bisa ditambahkan seperti ini :
auth_basic “Digembok, harus masukin password”;
auth_basic_user_file /var/www/nginx-default/filehtaccess;
Untuk peletakannya bisa diletakan satu baris dengan ,
location / {
root  /var/www/nginx-default;
bla..
bla..
Ya, untuk anda yang terbiasa dengan apache pasti akan bingung dan keki untuk konfigurasi awal nya. Tapi percayalah, selebihnya mengasyikan, dan bikin lagi dan lagiii… *alah.. iklan banget..* :p
Bagaimana dengan loadbalancing yang enteng itu ?
Bagaimana dengan jurus2 nginx yang lain ?
Sudahlah, sabar, saya sudah ngantuk. Besok saja dilanjut :D.
Selamat Datang di dagdigdug
Selamat Datang di dagdigdug.com. Ini posting pertamamu , Ekspresikan perasaanmu. Ngebloglah sekarang juga !
The article has
2 responses