Pada sebuah bundaran
Lazimnya tempat itu bernama bundaran hotel indonesia, yang biasa disingkat dengan Bunderan HI. Tapi oleh beberapa kami-kami ini (kami ?? awakmu ae karo wedhus!, wekeke) biasa disebut dengan ilat jowo menjadi bunderan hotel indonesia. Atau ada juga yang menyebut dengan mbunderan hotel indonesia. Kami berusaha untuk nasionalis terhadap negara ini, maka dari itu, penyebutan kata-kata indonesia masih disebut dengan indonesia. Bukan ngendonesia, ataupun ngindonesyia.
Tidak ada yang spesial pada lokalisasi tersebut. Pada setiap hari nya mulai dari senin sampai dengan minggu, lalu ketemu dengan seninnya lagi, ya seperti itu-itu saja. Ada penjual kopi harga jalanan murah meriah; Rp. 2000,00, beserta dengan pemandangan sliwar-sliwer mbak-mbak yang semlohai dan pating pecothot tonjolannya kesana-kemari. Tidak ada pertunjukan tarian, pesta pora, pesta kebun, atau mungkin dolanan mercon di tengah bunderan tersebut. Meskipun hal tersebut memungkinkan terjadi, apabila para bani al-khamir mulai berdzikir dan bertasbih dengan meminum al-kohol ber-gendul gendul, atau ber botol-botol. Biasanya, Ustadz Endik yang selalu rajin untuk memimpin jamaahnya untuk melakukan ritual tesebut dibawah wit-witan bersama dengan Kyai Zen ataupun dengan Gus Pitek.
Yang ada disana hanya gojek kere. Sesuai dengan perumpaan, ya hanya kere-kere inilah yang selalu setiap hari jumat kadang gojek disana sampai sak kesele. Batas selesai ber-gojek (ber-gojek, wagu tenan istilahe) adalah sekuat pemilik badan. Bisa sampai jam 2 pagi. Bisa juga sampai jam 5 pagi. Berbagai alasan tercipta. Ada yang ngumpul sampai pagi, karena di kostannya kekunci karena ada jam malam. Ada lagi yang karena di rumah gak ada kerjaan; istri jauh, anak jauh, jadi pelampiasan ya ngobrol-ngobrol sampai kesel. Ya intinya yang ngumpul disana wong-wong sing ra nduwe gawenan, wekekke.
Pada jumat minggu ini saya absen. Bukan mengikuti ndoro mentri yang sedang nikah untuk yang ke 3 kali di surabaya, melainkan dikarenakan badan saya remuk, karena mburuh yang terlalu over. Ada pe-er dari pak mandor yang harus saya selesaikan hari itu juga. Mau tau mau, demi keamanan dan stabilitas keuangan dompet, saya manut.
Akhirnya, setelah pekerjaan pabrik selesai saya bisa bebas pulang. Meluruskan balung-balung remuk ini di apartemen 4 x 4 di daerah kebon kacang, boncang guest house katanya. Dalam perjalanan di angkot tadi, kebetulan angkot yang saya naiki ngetem sejenak di bunderan itu. Saya lihat disana, sepi. Hanya ada penduduk aseli pribumi ; mbok wedang dan anak-anak angkatnya. Ya, maklum, nongkrong di BHI memang tidak dijadwal dan diharuskan. Siapa yang mau nongkrong, ya silahkan nongrkong. Siapa yang tidak bisa untuk nongkrong, ya monggo.
Pada dasarnya nongkrong di disana hak semua orang. Meskipun mungkin (karena saya sendiri tidak tahu detailnya kepemilikan bunderan tersebut) secara tertulis hitam di atas putih, tongkrongan tersebut milik pengelola Plaza Indonesia. BHI bukan dimiliki oleh Mister Syaefulloh, alias ndoro mentri, atau bukan juga di punyai oleh Pak Presiden Bahtiar. BHI adalah yang nongkrong disana. Siapapun itu. Aturan disini adalah tidak ada aturan. Silahkan datang dan silahkan pergi sesuka hati. Karena bagaimanapun juga, seleksi alam untuk terus nongkrong di bunderan dan gabung bersama orang-orang kere ini, sangat menentukan. Semuanya bebas, asal mbayar kopi yang sudah diminum dan dipesan, harap maklum hidup di kota njakarta memang sarwo mbayar. Jangankan ngombe kopi di jalan mas, nguyuh ae sampeyan yo diwajibkan mbayar. Padahal nguyuh itu membuang cairan dalam tubuh, lha apalagi ini memasukkan cairan didalam tubuh. Lha, ini diharuskan dan diwajibkan untuk dikenakan charge. Berapa biayanya ? Dibaca lagi mas, sampeyan ra nyimak tulisanku diatas. Hanya 2000 rupiah, jelas to ? Itu berarti kalau anda membuang uyuh, anda bisa 2 kali membuang uyuh.
Ditilik dari manfaat, nongkrong di HI banyak memberikan manfaat yang sangat berlebih. Seperti berikut ini :
- Mendapat wejangan dari Mister Syaefulloh, budayawan jurusan sastra nuklir universitas UGM
- Mendapat ilmu tentang sipil dan arsitektur dari Ir Endik
- Mendapat ilmu sejarah pakenthon dari zaman majapahit sampai dengan sekarang, dari Sejarahwan muda kita, Raden Mas Zensilk
- Mendapat ilmu ekonomi dan politik dari Ir Hadik
- Mendapat ilmu barter dan menawar yang sangat ekstrim dari Nyonya kementrian keuangan republik bunderan hi, Hajjah cik mitong.
- Mendapat Les bahasa inggris, lha.. ini yang penting! Dari Miss Pitoningsih
- Mendapat cara beryoga yang baik dan benar dengan pose sleeping budha, bersama dengan sang presiden, Pak Pres Bah (PPB) bukan PPH.
- Kalau anda butuh kuliah hukum, cara menulis yang baik dan benar, ataupun sekedar latihan excell dan notepad, di bunderan juga ada yang siap untuk membantu dan memberikan anda pelajaran akan hal itu.
Masih kurang ?
Tenang, pada intinya apa yang anda mau semua ada dan tersedia di bunderan itu.
Didalam sebuah angkot tadi, saya meliat Pak Satpamwan, lengkap dengan helem putihnya, mulai mengusiri satu demi satu yang nongkrong disana. Dengan template yang sudah disiapkan oleh pak kumendan, saya melihatnya mengusir seorang demi seorang dengan sabarnya dengan cara :
- Memberi hormat terlebih dahulu.
- Memberi alasan kenapa tidak boleh nongkrong (alasannya biasanya demi keamanan si yang nongkrong itu, biar ga diganggu preman, gento, gali, de-es-be.) Ini masalah buat saya. Lha bagaimana ndak, lha wong yang nongkrong disana itu ya memang gento dan gali semua kok, wekekkee. Cerdas benar bapak satpam kita yang satu itu. Andaikan untuk keamanan, toh yang nongkrong dan sering datang kesitu sudah kenal baik dan akrab dengan yang sekitarnya, jadi ya ? Ah, cukup tau dan paham saja sampai sini.
- Memberi arahan untuk jangan nongkrong di buk itu (boso indonesiane buk itu opo to ?) ya, pokoknya plesteran itu lho maksudnya. Lalu, dengan arahan dan kaidah standar dari pak kumendan, biasanya pak satpamwan ini menujukan ke arah beberapa centimeter dari buk, yakni di depan buk untuk nongkrong. Yak saudara-saudara! Nongkrong duduk di atas buk tidak boleh, tapi nongkrong di depan buk boleh. Sangat buoodoohh sekali, wekekek. Mungkin pak satpam ini ingin menunjukan dan mengajarkan bahwa diatas itu memang tidak baik, dan baiknya adalah duduk lesehan dibawah. Sama rasa, sama adil.
- Kalau yang dikasih tau ini manut dan setuju dan gampang untuk diusir, biasanya tak sampai hitungan menit tugas dari pak satpam ini selesai. Dan mulai lagi patroli muter-muter bunderan, dengan berjalan di atas buk. Ya, ini keindahan mungkin. Duduk di buk ndak boleh, tapi diri dan muter-muter di buk itu boleh.
- Kalau yang dikasih tau itu alot, dan ndableg, biasanya pak satpamwan ini ngeyel juga. Ngeyel tapi terkadang mekso. Lha wong tugas je, harap maklum, mungkin begitu dalam hatinya.
Pada sebuah bundaran dan didalam angkot tadi saya melihat drama itu malam ini. Drama sebuah kepentingan antara sang pemilik toko dan pemilik pelataran, dengan kepentingan tugas dari pak satpam bersama pak kumendan dan beberapa pak pulisi yang dines di toko wine. Iya, mereka dinas. Mbuh dinas ngopo, mungkin dinas pengawalan terhadap botol-botol anggur dan tempatnya itu, supaya aman dari penglihatan para kere-kere di bunderan.
Dan juga drama kepentingan antara saya untuk berkumpul dan leyeh-leyeh disana. Dan juga beberapa orang, yang ingin ngaso disana karena letih berjalan dari arah sarinah ke sudirman, atau sebaliknya, dari sudirman ke arah thamrin.
Pada sebuah bunderan, saya mencatut tulisan pakdhe Jean de La Bruyère, yang katanya gini “Life is a tragedy for those who feel, and a comedy for those who think”, dan silahkan, untuk memilih apakah anda orang yang suka dengan komedi, atau orang yang suka dengan berfikir.
Pada sebuah bundaran juga saya mengenang beberapa orang-orang yang pernah datang disini dan saya berjumpa dengannya. Satu demi satu datang, satu demi satu pergi, dan satu demi satu tinggal. Mulai dari seorang yeni wahid, sampai dengan seorang kroco-kroco, para kuli-kuli tinta, para kuli bandwith, dan para beberapa pegawai plat merah, dan juga orang-orang setengah ring satu.
Pada sebuah bunderan saya berharap dan bermimpi, jika dulu seorang yeni wahid pernah bertandang disini. Mungkin nanti seorang Goenawan Muhammad, dan beberapa budayawan-budayawan tua, ikut serta nongkrong disini, menikmati segelas kopi, dari gelas aqua, seharga 2000. Dan gojek-gojek kere ataupun diskusi angin malam menunggu pagi.
Ya om, negara ini memang ndak buruk-buruk amat. Setuju saya, dengan pendapat sampeyan ketika selesai berjumpai dengan Pak JeKa. Negara ini mung remuk. Jangankan mensejahterakan rakyat dan bla bla bla, lha wong sekedar menyediakan akses publik saja angel je, harus gontok-gontokan dengan para pemilik duit dan pemilik modal.
Pada sebuah bundaran saya melihatnya dari sebuah angkot, kemarin.
Rantau
Merantau itu pergi jauh. Kadang-kadang jauh, jauh sekali. Kadang-kadang rasanya sewaktu-waktu akan dapat kembali. Rasanya. Padahal jalan yang telah dilalui dan akan ditempuh begitu banyak menikung. Kita akan terus merantau. Bagaimanapun, jalan akan terus menikung..
(Jalan menikung, para priyayi 2 –umar khayam)
Akhirnya lebaran selesai sudah. Kantor-kantor, pabrik-pabrik yang tadinya meliburkan karyawan dan pegawainya kini telah beraktivitas seperti biasa. Menggerakan motor, sekrup, dan berbagai sendi-sendi industri lagi. Sebagaimana kepergian meninggalkan kota rantau (mudik) kembali ke kota rantau akan sama ramainya juga, dan juga sudah menjadi suatu bentuk budaya yang harus diputar dan diputar kembali tiap tahunnya.
Jaman berubah, waktu berganti, tapi tidak dengan manusia dengan kebiasaannya. Begitu pula “budaya” mudik dan merantau. Orang akan rela menebus berbulan-bulan gaji atau bahkan menambung lemburan demi lemburan di pabrik, hanya untuk satu kali event dalam setahun : lebaran. Atau setidaknya kembali ke kampung, menemui dan mencumbui kembali tanah tempat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan.
Dan bukan suatu keheranan apabila dalam event yang bernama lebaran, berbagai jenis hal yang berkaitan atau berhubungan dengan ini akan mendadak menjadi lebih (atau sengaja dilebih-lebihkan ?) untuk sekedar menyemarakkan dan meramaikan gaungnya.
Sejatinya kembali ke fitrah, kembali ke keadaan NOL kembali ke awal permulaan, adalah kebutuhan yang sangat amat dibutuhkan manusia ketika dia sudah menempuh lika liku jalan yang sudah ia jalani dan ia temui. Diamini secara terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi, manusia adalah makhluk yang merindukan titik awal. Sekedar bahan untuk refleksi diri supaya tetap exist di masa yang sekarang, ataupun hanya sekedar wacana ringan pengingat zaman di hari esok.
Istirahat. Berhenti dari rutinitas kota, pekerjaan, pabrik, atau yang dilakukan sehari-hari di kota rantau, itulah yang kita kerjakan dan kita nikmati betul di kota asal kita ini. Meskipun istirahat itu adalah ya tidak melakukan apa-apa sebenarnya, tapi ketika kita pulang, makna istirahat sebenarnya adalah bekerja.
Bekerja untuk menemui kembali sanak, puak, kerabat, teman untuk bercanda tawa, memutar kembali euphoria masa lalu dan menikmati nya perlahan-lahan, dan disana kita merasa waktu melambat, bergerak sangat pelan sekali hingga satu hari pun terasa lama untuk kita alami.
Pulang ; menemui rumah adalah satu nya. Seperti petikan dalam salah buku pram –Bukan Pasar Malam–, “Apabila rumah itu rusak, maka yang menempatinya pun rusak” dan ketika kita pulang kita akan dipaksa untuk melihat rumah. Melihat tembok, melihat perubahan sana-sini, mengingat kembali memorabilia yang sudah terjadi bertahun-tahun lalu, dan terkadang memperbaiki sisi-sisi yang perlu di tambal sulam ; genteng, cat, dll.
Lalu ketika datang satu saat bernama kembali ke kota rantau seakan-akan hal yang telah kita lalui selama liburan seperti sangat cepat berlalu. Sekelabatan datang, dan sekelebatan hilang. Seperti sebuah pasar malam yang tau-tau ramai dan tau-tau menjadi sepi karena para pengunjung meninggalkannya sedikit demi sedikit, namun terasa cepat bagi para pemain atau pun penghuni psar malam tersebut.
Dan sayangnya semua orang itu tidak memiliki sifat seperti si mbok sri sumarah dalam kumpulan cerita seribu kunang-kunang di manhattannya Umar Khayam. Sifat sumarah dalam jawa yang berarti menyerah, pasrah, kalah. Sumarah terhadap keadaan hidup di desa, sumarah terhadap apa yang sudah didapat dalam desa.
Justru yang ada semua memandang kota sebagai pusat mesin keruk pencari uang dan mimpi.
Dan berapa mimpi yang sudah terjual di kota ini sendiri ? entah. Jika mimpi adalah bintang, maka mimpi-mimpi yang terjual akan membuat bintang-bintang hilang satu demi satu. Dan seperti itulah langit Jakarta, atau mungkin langit sebuah desa yang akan atau mengejar seperti Jakarta. Kota tanpa bintang, kota yang telah menggadai mimpi-mimpi .
kamu
yang membakar bara
dan menyalakan nyala nya kesumba warna senja di sore hari kita
adalah kamu.
yang datang dengan segenggam kehangatan
untuk berperang melawan kesepian
adalah kamu.
yang datang dengan pensil berwarna-warni
dan mencoret moret dinding di hatiku
jugalah kamu.
dan,
pengganti dinding-dinding dingin
teman berbicara disaat malam tiba
adalah kamu.
lalu yang menyiram seluruh dinding di hati ini
dengan warna hitam, pekat, berjelaga
kamu.
dan yang mendinginkan
hingga ramai dengan bunga es yang bermekaran di sana-sini
itu juga kamu.
kamu, hantu
datang tak menentu
menikam aku dalam-dalam saat aku jemu
dan aku remuk tanpa bentuk
sungguh.
sogokan dari kantor
temen: om
gw: yup
temen: heheheh
gw: napa om?
temen: kita dpt komp baru
temen:
gw: heh?
gw: maksudnya?
temen: iya
temen: ganti komp yang lama
temen: dari IS
gw: woogh
temen: katanya gak standar
temen: wakakakka
temen: ini gue lagi instal2
temen:
gw: ebuset
gw: lha data2 gimana?
gw: udah langsung dipindahin sama mereka?
gw: atau ?
temen: gak
temen: blm
gw: oh cuman ditaruh doang di meja ?
temen: kita yang pindahin
temen:
gw: wogh gitu
gw: woke
temen: ambil sendiri katanya
temen:
temen: tp ada dua
temen: katanya buat lo ama gue
temen:
gw: wekekek
gw: siap pakdhe
temen: Lenovo
makin susah aja untuk nakal dan bandel sekarang ini *sigh*
Goes to muktamar 2!

Para rawuh ingkang kawula mulyaken,
Sakmenika muktamar mbunderan hi sampun mlebu taun ingkang ke 2. Temanipun ingkang taun niki inggih menika “Muktamar blogger, blogging for wit-wit’an“. Ingkang di dapuk dados ketua (tampang rai lan umur paling tua) inggih menika Raden Mas Ndoro Gusti Hadikusbrutu, ugi saged di udang nami alit, gus pitek. Miturut para dewan Syuro BHI, korlap (koordinator nge-lap) acara niki, Lelananging jagadin sastra jawi kuno asuning ndunyo pandamel serat kalangwan utek londo rai jowo, Raden Mr Zen rahmat sugito.
Muktamar menika ditamtokaken kaliyan dewan syuro bhi dateng pelateran buk plaza indonesia. Acaranipun inggih menika ;
- Pembukaan kaliyan pak koorlap Raden Mr Zen rahmat sugito
- Pembacaan pidato kaliyan pak ketua Ndoro Gusti Hadikusbrutu
- Seksi dungo berjamaah ingkang di pimpin langsung kaliyan sedulur tunggal sak tunggal-tunggal’e kyai langitan ; Gus ipul
- Makan minum lan tausyiah kalian ki endik palipur lara
- Dibikak pembacaan tentang kegiatan Wedhus for bangsari lan gerakan seribu buku kaliyan gus ipul
- Penutupan sak nutup-nutup’e nganthi enjang kaliyan para rawuh ingkang kawula mulyaken.
Muktamar menika mboten dipundhut artha, dadosipun gratis, tis, tis. Para sanak ingkang badhe tumut sumonggo kempal langsung dhateng pelateran buk plaza indonesia jam bebas, penting mbengi, dinten jumat malem sebtu kliwon. Nggih itung-itung ngumpulaken balung ingkang pejah.
Nggih, kurang luwih nggih mekaten rumiyin pawartos saking kulo, kesel su nulis runut gae boso kromo ki. asu tenan.
nb:
saking seksi donatur, rencanipun ndoro bos juragan hek ingkang sukses kaliyan warung sate jamu iwak segawon ; ndoro bagus iqbalicuk, bakal turut menyumbang sak drijen ciu bekonang ingkang sampun terkenal kasiyat lan mudaratipun.
Mau menampilkan yang mana ?

Mau memunculkan sisi yang mana saja, itu terserah anda. Berapapun sisi yang anda punya, itu pun juga terserah anda, menilai dan dinilai seperti apa, itu hak penilai dan hak yang menerima nilai. Saling pengertian, saling menerima, kata kunci yang pas supaya dinamis diantaranya.
Semua tempat adalah menarik.Baik di kehidupan sehari-hari maupun di kehidupan online. Meskipun ada batasan atau sekat diatara keduanya, sekat tersebut sangat tipis. Bahkan cenderung tidak bersekat sama sekali.
Kita tidak akan pernah tau darimana kita mendapatkan kawan, dan darimana juga si kawan itu datang. Begitu juga dengan kehidupan, semua masih tertutup, masih tersamar, wawang dan belum jelas.
“ini membicarakan tentang apa to ?, ” oh, ini membicarakan tentang apa yang harus di tunjukkan ke publik dan apa yang tidak, hehehe. Hal-hal yang dianggap remeh temeh oleh orang lain, hal-hal yang sepele dimata orang lain, memang terkadang hal tersebut lah yang justru sangat penting di satu pihak, merasa lebih, dan merasa harus dilihatkan ke semua orang. Hal itu apa ? hal itu bisa rasa, bisa peristiwa, bisa berita, macam-macam.
Dulu saya pernah menilai sesuatu secara sepihak, secara satu mata, dan satu sisi saja ; diri saya. Seseorang pernah menceritakan cerita kehidupan dia (curhat) dalam blog nya, lalu saya bilang ke dia bahwa dia lemah. Ya, saya sadar saya arogan. Dan akhirnya saya mengaku saya salah.
On the Internet, Nobody Knows You’re a Dog. Begitu karikatur yang dibuat oleh Peter Steiner pada tahun 1993. Ya, kita memang bisa mempermak diri kita sedemikian rupa untuk hadir kedalam panggung yang bernama internet, apapun bentuknya ; bisa chat, blog, layanan jejaring sosial, dan itu sah-sah saja. Anda mau memposisikan diri anda sebagai karakter yang bajingan, alim, wagu, lucu, itu juga ya sah-sah saja.
Tapi ingat, konon semakin banyak rupa yang akan anda pakai, maka akan semakin kelihatan wajah dan rupa aseli anda sendiri. Hati-hati, karena bangkai itu baunya pasti tercium meskipun tertutup oleh parfum, dan sepandai-sepandainya tupai meloncat pasti akan terjatuh juga. You can run, but you cant hide.
el-Yudhi, mau jadi… *ting*
Rumah
Apa yang ada dipikiranmu ketika mendengar kata-kata “rumah,” ?.
Rumah nenek, mengingatkan saya akan kehangatan akan masa tua seorang manusia yang ramah dan selalu memanja saya. Rumah orang tua, mengingatkan saya akan suasana warna-warni sebuah masa kekeluargaan, tentunya terlalu banyak warna yang ada dalam rumah tersebut. Rumah teman atau keluarga teman, seperti sebuah lukisan dalam suatu galery dimana disana saya sebagai penikmat galery tersebut.
Tentunya banyak definisi rumah bagi macam-macam semua orang dan semua pendapat. Ada yang menganggap rumah itu ibarat burung dengan sebuah pohon. Bisa dipakai untuk tempat singgah, tempat beranak pinak, tempat mencari makan, atau mungkin tempat istirahat ketika masa tua telah tiba sambil menunggu ajal.
Bagi pejalan, mungkin rumah juga bisa diartikan petualangan. Seperti yang pernah dikatan Vahd Mulachel dalam bukunya yang berjudul “vahdventure”; hidup tanpa petualangan seperti sebuah buku tanpa nomor halaman, kita melalui itu, kita membaca tiap hari, tapi kita tidak tau sampai dimanakah kita?.
Ya, perjalanan saya sendiri mungkin tidak sejauh dan belum se-extrem yang dilakukan oleh seorang Golagong, atau wartawan kompas yang sekarang berada entah di belahan bumi mana sekarang, ya si Agustinus Wibowo. Belum! Saya belum sampai sana. Saya masih berkutat dalam satu pulau dan belum meninggalkan pulau itu, walaupun didalam kamar saya terbentang peta nusantara, dan peta-peta daerah seperti jakarta, bandung, dan sekitarnya yang masih terlipat rapi dalam bentuknya.
“Rumah” yang saya tempati sekarang ini kecil. Hanya ada satu manusia ; saya, yang berada didalamnya ketika kantuk, malas, dan bosan mulai kumpul akur dalam satu hari. Dan terkadang saya seperti tinggal dalam Asteroid B 612 –planet tempat pangeran kecil tinggal dalam buku berjudul pangeran kecil karangan Antoine de Saint-Exupery– tapi yang membedakan antara saya dan pangeran kecil ; saya sering membiarkan baobab tumbuh seenaknya dan baru sadar serta berkeinginan untuk memotong dan membersihkan ketika baoba itu mulai besar dan mulai terasa sesak. Ya, sebut saya malas dan itulah saya.
Lalu bagi orang-orang yang mursal apakah masih ada sesuatu yang bernama rumah ?
Bagi saya masih. Tak perduli meski konon ketika sebuah rumah rusak yang menempatinya rusak, toh masih ada dan masih punya sebuah rumah. Dan untuk memperbaiki sesuatu yang rusak masih ada sebuah waktu dan kesempatan. Walaupun takdir manusia yang bandel adalah suka bermain-main dengan waktu.
“Siapa mau mencari mutiara, haruslah berani selam kedalam laut yang sedalam-dalamnya; siapa yang demgan kecil hati berdiri di pinggir saja dan takut akan terjun kedalam air, ia tak akan dapat sesuatu apa!,” begitu salah satu kata-kata yang saya ingat dalam sebuah tulisan Soekarno yang dipasang dalam Suluh Indonesia muda pada tahun 1928.
Cukup gantungkan rindu akan rumah itu dalam 5 jengkal jari diatas kepala, jangan terlalu jauh dan jangan terlalu dekat. Lalu ketika rindu itu sudah mengepung ke berbagai sisi, pulanglah. Dan ingat, terlalu lama dalam rumah bisa bikin sesak karna kenyamananya. Keluarlah sesekali, dan pulanglah sesekali juga.
“… Homesick.
Because I no longer know where home is…” (King of convenience, home sick)
Mendefinisikan kotor
Tadi pagi kostan tempat saya ada penyemprotan nyambuk dbd. Raungan mesin yang entah namanya apa itu telah berhasil membangunkan saya sejenak. Ketika saya bangun, asap sudah dimana-mana. Beruntung, asap belum masuk rumah kost. Jadi saya sempat menghirup udara jam 11 sejenak.
Saya keluar, sekedar melihat apa saja yang sudah terjadi selama pagi tadi di sekitar lingkungan. O, lala, ternyata penyemprotan itu lumayan berhasil juga rasanya. Nyamuk-nyamuk keluar semua dari got, berhamburan.
Tidak hanya nyamuk rupayanya yang keluar dari got waktu itu. Kecoak-kecoak pun keluar semua. Ya, kecoak berhamburan. Silahkan dibayangkan. Kalau nyamuk yang keluar secara rame-rame dan berjamaah itu saya masih tidak kaget dan terlihat umum. Tapi kalau kecoak yang mak bedunduk keluar sebegitu banyaknya, saya akui saya kaget.
Kaget yang pertama; karena lingkungan yang tiap hari nya saya tempati, jalanan yang tiap hari dan malam nya saya lalui sebegitu rapi, sebegitu tertata apik, ternyata berfungsi sebagai sarang para kecoak-kecoak yang jumlahnya sangat banyak dan tak terkira untuk hitungan seorang saya.
Kaget yang kedua; kecoak-kecoak ini keluar berhamburan dari lubang-lubang got, tetapi orang-orang tempat sekitar saya bukannya jijik, melainkan malah dianggap sebagai hiburan. Mereka beramai-ramai keluar rumah dan “kerja bakti” saling menggepuk’i kecoak-kecoak itu sambil tertawa-tawa senang. Entah, mungkin “acara kerja bakti” ini masih termasuk dalam momen 17 Agustus tempat kampung saya itu.
Saya tidak tau.
Kaget yang ketiga; ternyata batas antara kotor dan bersih menjadi tipis bahkan menjadi tidak terbatas, ketika ke kotor-an itu dilakukan secara bersama-sama. Semua menjadi ter-toleransikan, dan akhirnya ? ya sudah, umum. Hilang, lalu dianggap wajar.
*el-yudhi, jam 3 pagi masih berjaya di depan monitor. ngantuk tapi merem susah.
Sepatu
3 Taun sepatu model seperti itu saya pakai dahulu waktu sekolah. Tidak ada model kerjasama antara sekolah kami dengan pabrikan sepatu tersebut. Yang ada hanya peraturan ; bahwa selama menjadi murid maka diwajibkan memakai sepatu model itu. Warrior namanya. Hanya sepatu dengan model yang simple dan sangat sederhana.
Merk bebas, mau mahal selangit, atau murah sekalipun tidak apa-apa. Yang sudah jelas dan pasti bentuk, warna, dan model harus seperti itu. Sama persis tidak boleh tidak. Plek! pokoknya.
Setidaknya karena saya orang jawa atau terlahir sebagai orang jawa, saya selalu beruntung. Ditambah lagi satu ; ndableg. Lengkap sudah keberuntungan saya. Sebagai orang jawa yang selalu mengucap dan berusaha bersikap untung dan ndableg. Selama 3 tahun saya sekolah, terhitung seingat saya hanya 2 kali ganti sepatu. Dan ganti sepatu pun itu juga karena lapisan bawah sudah bolong.
Konon melalui sepatu kita bisa menilai siapa dan dari kalangan kelas manakah si pemakai itu. Meskipun tidak seluruhnya benar penilaian orang hanya atas berdasar pada sepatu saja.
Dalam sebuah buku pram, terpatri dengan jelas di ingatan saya tentang sepatu. Sepatu menentukan kelas. Jelata tak mungkin mendapat dan menggunakan sepatu. Hanya kaum kelas tinggi, atau totok eropa lah yang punya dan bisa menggunakan sepatu. Dan ketika seorang hamba sahaya melihat seseorang bersepatu, maka dikala itu, ia tak akan segan dan akan langsung menaruh hormat kepada si pemakai sepatu tersebut.
Sepatu-sepatu saya sedikit. Syukur, saya senang punya sepatu yang bisa diajak bandel dan bebal. Bisa tahan banting dan pakai setidaknya sampai lapisan depan, bawah, bolong dan berlubang. Setidaknya saya merasa bangga bahwa dengan sepatu itu saya sudah kemana-mana. Jalan tanpa rencana, tanpa tujuan, dan akhirnya sampai.
Sepatu-sepatu itu memang tidak pernah berbicara dan mengeluh akan letihnya sebuah perjalanan bersama tuan nya. Ia selalu setia. Bahkan ketika nanti, sampai ia ditaruh di gudang, tempat penyimpanan barang-barang yang sudah tak layak pakai.
nb:
pict tanpa izin diambil dari blog sini
Purnama
Bulan terbit dari lautan
Rambutnya yang tergerai ia kibaskan
Dan menjelang malam
wajahnya yang bundar
menyinari gubug-gubug kaum gelandangan
kota jakarta. (Sebuah sajak dari rendra)
Hari ini jakarta purnama. Entah, dilihat atau tidak, toh bulan masih nongol memancarkan sinarnya di malam hari ini. Perduli setan bahwa di kota ini manusia-manusia nya lebih suka mengurus acara 17-an, masang bendera setahun sekali, mabuk-mabuk’an di gang-gang jalan, atau tanding kartu gaplek.
Iya, sekarang sudah tanggal 17. Pas purnama. Jalan-jalan depan istana itu, besok pagi pasti akan ramai. Tapak-tapak kaki bekas para presiden yang sering saya ludahi kecuali tapak kaki Bung Karno, pasti akan dipoles bersih nanti. Di hias rapi, setahun sekali. Wajar.
Saya lupa sudah tanggal 17 dibulan agustus yang keberapakah saya merayakan hari ini di sini, di kota ini. Seingat saya sudah lama, dan acara serimonial dari tahun ke tahun ya sama saja. Monoton itu melulu.
Dulu waktu masih dirumah, ibu saya selalu menyimpan bendera merah-putih. Di cuci bila sudah kotor, di setrika, di lipat, dan ditaruh kembali ke dalam lemari untuk dipakai nanti tanggal 17 Agustus. Jarang di keluarga kami membeli bendera setiap bulan Agustus, karena bendera dari tahun ke tahun ya hanya 2 warna saja, jadi kenapa harus beli di tiap tahunnya ?.
Ada yang masih sama dan belum berubah dari pemikiran saya waktu kecil dan sampai sekarang ini. Yakni tentang pengibaran bendera di tiang-tiang setiap rumah. Rasanya seperti bebek, melihat satu rumah memasang bendera lalu yang lain mengikuti memasang.Dan memaknakan arti kemerdekaan jadi sesempit memasang, mengerek, dan memajang bendera di depan halaman rumah masing-masing. Itu saja. Tentunya selain acara lomba-lomba di setiap lingkungan masing-masing.
Purnama,
Dulu dibawah sinar bulan ini lahir satu jabang bayi dari suku sakya, kasta ksatria, dari sebuah kerajaan yang bernama Kapilavastu. Seorang pangeran yang lahir dari pasangan raja Suddhodana dan seorang istri yang bernama ratu Mahamaya.
Arti dari namanya sendiri bagus, “Dia yang tercapai apa yang dicita-citakannya”. Ya, dia itu adalah Siddharta. Siddharta Gautama.
Kalau dulu dibawah sinaran bulan purnama telah lahir seorang Siddharta, seseorang yang tercapai apa yang di cita-citakannya, semoga dalam pancaran sinar bulan purnama juga lah, akan lahir sebuah negri yang akan tercapai apa yang akan dicita-citakannya ; yakni kemerdekaan.
The article has
5 responses