Lazimnya tempat itu bernama bundaran hotel indonesia, yang biasa disingkat dengan Bunderan HI. Tapi oleh beberapa kami-kami ini (kami ?? awakmu ae karo wedhus!, wekeke) biasa disebut dengan ilat jowo menjadi bunderan hotel indonesia. Atau ada juga yang menyebut dengan mbunderan hotel indonesia. Kami berusaha untuk nasionalis terhadap negara ini, maka dari itu, penyebutan kata-kata indonesia masih disebut dengan indonesia. Bukan ngendonesia, ataupun ngindonesyia.
Tidak ada yang spesial pada lokalisasi tersebut. Pada setiap hari nya mulai dari senin sampai dengan minggu, lalu ketemu dengan seninnya lagi, ya seperti itu-itu saja. Ada penjual kopi harga jalanan murah meriah; Rp. 2000,00, beserta dengan pemandangan sliwar-sliwer mbak-mbak yang semlohai dan pating pecothot tonjolannya kesana-kemari. Tidak ada pertunjukan tarian, pesta pora, pesta kebun, atau mungkin dolanan mercon di tengah bunderan tersebut. Meskipun hal tersebut memungkinkan terjadi, apabila para bani al-khamir mulai berdzikir dan bertasbih dengan meminum al-kohol ber-gendul gendul, atau ber botol-botol. Biasanya, Ustadz Endik yang selalu rajin untuk memimpin jamaahnya untuk melakukan ritual tesebut dibawah wit-witan bersama dengan Kyai Zen ataupun dengan Gus Pitek.
Yang ada disana hanya gojek kere. Sesuai dengan perumpaan, ya hanya kere-kere inilah yang selalu setiap hari jumat kadang gojek disana sampai sak kesele. Batas selesai ber-gojek (ber-gojek, wagu tenan istilahe) adalah sekuat pemilik badan. Bisa sampai jam 2 pagi. Bisa juga sampai jam 5 pagi. Berbagai alasan tercipta. Ada yang ngumpul sampai pagi, karena di kostannya kekunci karena ada jam malam. Ada lagi yang karena di rumah gak ada kerjaan; istri jauh, anak jauh, jadi pelampiasan ya ngobrol-ngobrol sampai kesel. Ya intinya yang ngumpul disana wong-wong sing ra nduwe gawenan, wekekke.
Pada jumat minggu ini saya absen. Bukan mengikuti ndoro mentri yang sedang nikah untuk yang ke 3 kali di surabaya, melainkan dikarenakan badan saya remuk, karena mburuh yang terlalu over. Ada pe-er dari pak mandor yang harus saya selesaikan hari itu juga. Mau tau mau, demi keamanan dan stabilitas keuangan dompet, saya manut.
Akhirnya, setelah pekerjaan pabrik selesai saya bisa bebas pulang. Meluruskan balung-balung remuk ini di apartemen 4 x 4 di daerah kebon kacang, boncang guest house katanya. Dalam perjalanan di angkot tadi, kebetulan angkot yang saya naiki ngetem sejenak di bunderan itu. Saya lihat disana, sepi. Hanya ada penduduk aseli pribumi ; mbok wedang dan anak-anak angkatnya. Ya, maklum, nongkrong di BHI memang tidak dijadwal dan diharuskan. Siapa yang mau nongkrong, ya silahkan nongrkong. Siapa yang tidak bisa untuk nongkrong, ya monggo.
Pada dasarnya nongkrong di disana hak semua orang. Meskipun mungkin (karena saya sendiri tidak tahu detailnya kepemilikan bunderan tersebut) secara tertulis hitam di atas putih, tongkrongan tersebut milik pengelola Plaza Indonesia. BHI bukan dimiliki oleh Mister Syaefulloh, alias ndoro mentri, atau bukan juga di punyai oleh Pak Presiden Bahtiar. BHI adalah yang nongkrong disana. Siapapun itu. Aturan disini adalah tidak ada aturan. Silahkan datang dan silahkan pergi sesuka hati. Karena bagaimanapun juga, seleksi alam untuk terus nongkrong di bunderan dan gabung bersama orang-orang kere ini, sangat menentukan. Semuanya bebas, asal mbayar kopi yang sudah diminum dan dipesan, harap maklum hidup di kota njakarta memang sarwo mbayar. Jangankan ngombe kopi di jalan mas, nguyuh ae sampeyan yo diwajibkan mbayar. Padahal nguyuh itu membuang cairan dalam tubuh, lha apalagi ini memasukkan cairan didalam tubuh. Lha, ini diharuskan dan diwajibkan untuk dikenakan charge. Berapa biayanya ? Dibaca lagi mas, sampeyan ra nyimak tulisanku diatas. Hanya 2000 rupiah, jelas to ? Itu berarti kalau anda membuang uyuh, anda bisa 2 kali membuang uyuh.
Ditilik dari manfaat, nongkrong di HI banyak memberikan manfaat yang sangat berlebih. Seperti berikut ini :
- Mendapat wejangan dari Mister Syaefulloh, budayawan jurusan sastra nuklir universitas UGM
- Mendapat ilmu tentang sipil dan arsitektur dari Ir Endik
- Mendapat ilmu sejarah pakenthon dari zaman majapahit sampai dengan sekarang, dari Sejarahwan muda kita, Raden Mas Zensilk
- Mendapat ilmu ekonomi dan politik dari Ir Hadik
- Mendapat ilmu barter dan menawar yang sangat ekstrim dari Nyonya kementrian keuangan republik bunderan hi, Hajjah cik mitong.
- Mendapat Les bahasa inggris, lha.. ini yang penting! Dari Miss Pitoningsih
- Mendapat cara beryoga yang baik dan benar dengan pose sleeping budha, bersama dengan sang presiden, Pak Pres Bah (PPB) bukan PPH.
- Kalau anda butuh kuliah hukum, cara menulis yang baik dan benar, ataupun sekedar latihan excell dan notepad, di bunderan juga ada yang siap untuk membantu dan memberikan anda pelajaran akan hal itu.
Masih kurang ?
Tenang, pada intinya apa yang anda mau semua ada dan tersedia di bunderan itu.
Didalam sebuah angkot tadi, saya meliat Pak Satpamwan, lengkap dengan helem putihnya, mulai mengusiri satu demi satu yang nongkrong disana. Dengan template yang sudah disiapkan oleh pak kumendan, saya melihatnya mengusir seorang demi seorang dengan sabarnya dengan cara :
- Memberi hormat terlebih dahulu.
- Memberi alasan kenapa tidak boleh nongkrong (alasannya biasanya demi keamanan si yang nongkrong itu, biar ga diganggu preman, gento, gali, de-es-be.) Ini masalah buat saya. Lha bagaimana ndak, lha wong yang nongkrong disana itu ya memang gento dan gali semua kok, wekekkee. Cerdas benar bapak satpam kita yang satu itu. Andaikan untuk keamanan, toh yang nongkrong dan sering datang kesitu sudah kenal baik dan akrab dengan yang sekitarnya, jadi ya ? Ah, cukup tau dan paham saja sampai sini.
- Memberi arahan untuk jangan nongkrong di buk itu (boso indonesiane buk itu opo to ?) ya, pokoknya plesteran itu lho maksudnya. Lalu, dengan arahan dan kaidah standar dari pak kumendan, biasanya pak satpamwan ini menujukan ke arah beberapa centimeter dari buk, yakni di depan buk untuk nongkrong. Yak saudara-saudara! Nongkrong duduk di atas buk tidak boleh, tapi nongkrong di depan buk boleh. Sangat buoodoohh sekali, wekekek. Mungkin pak satpam ini ingin menunjukan dan mengajarkan bahwa diatas itu memang tidak baik, dan baiknya adalah duduk lesehan dibawah. Sama rasa, sama adil.
- Kalau yang dikasih tau ini manut dan setuju dan gampang untuk diusir, biasanya tak sampai hitungan menit tugas dari pak satpam ini selesai. Dan mulai lagi patroli muter-muter bunderan, dengan berjalan di atas buk. Ya, ini keindahan mungkin. Duduk di buk ndak boleh, tapi diri dan muter-muter di buk itu boleh.
- Kalau yang dikasih tau itu alot, dan ndableg, biasanya pak satpamwan ini ngeyel juga. Ngeyel tapi terkadang mekso. Lha wong tugas je, harap maklum, mungkin begitu dalam hatinya.
Pada sebuah bundaran dan didalam angkot tadi saya melihat drama itu malam ini. Drama sebuah kepentingan antara sang pemilik toko dan pemilik pelataran, dengan kepentingan tugas dari pak satpam bersama pak kumendan dan beberapa pak pulisi yang dines di toko wine. Iya, mereka dinas. Mbuh dinas ngopo, mungkin dinas pengawalan terhadap botol-botol anggur dan tempatnya itu, supaya aman dari penglihatan para kere-kere di bunderan.
Dan juga drama kepentingan antara saya untuk berkumpul dan leyeh-leyeh disana. Dan juga beberapa orang, yang ingin ngaso disana karena letih berjalan dari arah sarinah ke sudirman, atau sebaliknya, dari sudirman ke arah thamrin.
Pada sebuah bunderan, saya mencatut tulisan pakdhe Jean de La Bruyère, yang katanya gini “Life is a tragedy for those who feel, and a comedy for those who think”, dan silahkan, untuk memilih apakah anda orang yang suka dengan komedi, atau orang yang suka dengan berfikir.
Pada sebuah bundaran juga saya mengenang beberapa orang-orang yang pernah datang disini dan saya berjumpa dengannya. Satu demi satu datang, satu demi satu pergi, dan satu demi satu tinggal. Mulai dari seorang yeni wahid, sampai dengan seorang kroco-kroco, para kuli-kuli tinta, para kuli bandwith, dan para beberapa pegawai plat merah, dan juga orang-orang setengah ring satu.
Pada sebuah bunderan saya berharap dan bermimpi, jika dulu seorang yeni wahid pernah bertandang disini. Mungkin nanti seorang Goenawan Muhammad, dan beberapa budayawan-budayawan tua, ikut serta nongkrong disini, menikmati segelas kopi, dari gelas aqua, seharga 2000. Dan gojek-gojek kere ataupun diskusi angin malam menunggu pagi.
Ya om, negara ini memang ndak buruk-buruk amat. Setuju saya, dengan pendapat sampeyan ketika selesai berjumpai dengan Pak JeKa. Negara ini mung remuk. Jangankan mensejahterakan rakyat dan bla bla bla, lha wong sekedar menyediakan akses publik saja angel je, harus gontok-gontokan dengan para pemilik duit dan pemilik modal.
Pada sebuah bundaran saya melihatnya dari sebuah angkot, kemarin.

